Dari Guru, untuk Guru, oleh Guru 1×24 Jam Lahirkan Inovasi Pendidikan Sulsel

Makassar – Pemandangan langka terlihat di akhir pekan ini. Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan yang biasanya lengang di hari libur, berubah menjadi pusat kreativitas dan kolaborasi. Puluhan guru dari berbagai SMA/SMK di Sulsel duduk berjajar di depan laptop, kamera, dan papan tulis, mengikuti Hackathon Guru Merah Putih, maraton inovasi pendidikan selama 1×24 jam yang memadukan teknologi, kreativitas, dan pengabdian.

Bekerja tanpa henti sejak Sabtu pagi hingga Minggu pagi, para guru terbagi dalam tim dengan keahlian masing-masing: programmer mengutak-atik kode, desainer grafis memoles antarmuka aplikasi, konten kreator menulis dan menyunting materi pembelajaran, sementara qori melantunkan ayat-ayat suci untuk direkam. Hasil kerja sama lintas keahlian ini adalah dua karya strategis: Aplikasi Setoran Hafalan Juz 30 ANDALAN untuk memudahkan guru dan tenaga kependidikan melaporkan serta memantau hafalan Al-Qur’an, serta Aplikasi Pencegahan & Pelaporan Kekerasan Seksual (TPPKS) untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan berkarakter.

Sitti Rahmawati dari SMAN 8 Gowa, yang bertugas di tim konten aplikasi TPPKS, mengaku terkesan dengan suasana kerja yang penuh semangat. “Saya merasa seperti sedang bekerja di sebuah startup teknologi, tapi ini semua untuk pendidikan. Kami saling menguatkan saat lelah, dan itu membuat prosesnya menyenangkan walaupun menantang,” ungkapnya.

Sementara itu, Syamsul Bahri dari SMKN 2 Bulukumba yang bergabung di tim desain grafis mengatakan, “Jarang sekali guru bisa terlibat langsung membuat aplikasi. Di sini saya belajar bahwa teknologi dan pendidikan bisa berjalan bersama, dan guru bisa menjadi pencipta, bukan hanya pengguna,” ujarnya.

Plt. Kepala Bidang PTK Disdik Sulsel, Anshar Syukur, yang sejak awal memantau jalannya kegiatan, menekankan bahwa hackathon ini adalah bentuk nyata peran guru sebagai agen perubahan. “Guru Sulawesi Selatan hari ini menunjukkan bahwa mereka mampu memimpin inovasi. Mereka berkorban waktu, tenaga, bahkan kenyamanan demi karya yang bermanfaat untuk banyak orang. Semangat seperti ini adalah pondasi penting bagi pendidikan yang maju dan berkarakter,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Iqbal Nadjamuddin, menyebut kegiatan ini sebagai contoh kolaborasi efektif yang patut dicontoh. “Kita membuktikan bahwa inovasi besar tidak selalu harus mahal. Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan mitra tanpa membebani APBD, namun dampaknya bisa dirasakan luas oleh satuan pendidikan. Ini adalah bukti bahwa gotong royong bisa melahirkan terobosan,” jelasnya.

Didukung oleh Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI), Ranu Prima Cerdas, dan Militan 455, Hackathon Guru Merah Putih tidak hanya menghasilkan aplikasi, tetapi juga membangun jejaring antar guru, memupuk keterampilan digital, dan memperkuat karakter kebersamaan. Dalam 24 jam itu, yang lahir bukan hanya teknologi, tetapi juga harapan baru bagi pendidikan Sulawesi Selatan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *